Segalanya Akan Dikenang

Apa saja yang kita lakukan. Akan Dikenang dalam Sejarah.

Salam Papua

"wa wa wa wa wa"Welcome Yandu Daily News"

BARNABAS SUEBU

“saya sangat heran karena kabupaten ini sangat maju dari kabupaten-kabupaten pegunungan lainnya saya sangat senang melihatnya, dan mungkin tahun-tahun kedepan kabupaten pegunungan Bintang ini akan menjadi kota terindah dan aman dipapua” Oksibil,22 Juni 2010.lihat: http://komapo.org

DAVID COVEY

“We can be a purpose-driven church. We can be a seeker-sensitive church. We can be an emergent and creative church. We can be a justice-and-peace church. We can be a conservative Calvinist church. But if we fail to hear the Holy Spirit of the living God, then all our serving will be futile and fruitless,”

PARES L.WENDA

Kesatuan mempunyai kekuatan, melebihi kekuatan senjata nuklir.Perlawanan apapun dalam perjuangan kebenaran, keadilan, persamaan derajat, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, mutlak harus bersatu. Ketika bersatu dan melawan pasti ada hasil.

PARES L.WENDA

"Hiduplah dalam alam kesadaran sejarah"
Hak Cipta SBP@2009.www.yanduwone.co.cc. Diberdayakan oleh Blogger.

KEKUATAN PERSATUAN

Dapat merunutuhkan kekuatan Firaun, Tembok Yeriko, Tembok Berlin.

Jesus

Save and bless us

Kesatuan-Melebihi Kekuatan Senjata Nuklir

Kesatuan mempunyai kekuatan, melebihi kekuatan senjata nuklir. By. Pares L.Wenda.
Perlawanan apapun dalam perjuangan kebenaran, keadilan, persamaan derajat, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, mutlak harus bersatu. Ketika bersatu dan melawan pasti ada hasil.

Member

About Me »

yanduwone
Jayapura, Papua, Indonesia
****Hiduplah dalam alam kesadaran sejarah.Sejarah adalah identitas dan jati diri suatu bangsa.******
Lihat profil lengkapku

Link List


Demo Rakyat Papua [Jan,26-2011]

International Calender

Buku Presiden Baptis Dilarang

Home � � 'Teologi Politik'

'Teologi Politik'

By: Benni E.Matindas | Vitamin | 09 Januari 2010, 09:18:00 | Dibaca: 246 kali

Perenungan sosial politik kita kali ini mengangkat tajuk sama dengan judul buku politik yang telah terhitung klasik karya Carl Schmitt (1888-1985), Political Theology. Teologi politik yang dimaksudnya bukan ajaran agama tertentu mengenai etika di bidang politik, ataupun wacana yang semacam itu. Ini bukan buku teologia, tapi sepenuhnya filsafat politik.

Konsep saya tentang negara banyak yang bertolak belakang dengan yang ditawarkan Schmitt, namun tujuannya ada benar. Khususnya niat dia untuk menyatakan pentingnya pendobrakan atas tatanan yang dijaga ketat oleh konstitusi, segala mahkamah, dan segenap aparat negara. Pembangkangan terhadap undang-undang yang berlaku. Pemutusan dari garis tertib administrasi yang rutin. Pendeknya: revolusi — yang oleh Schmitt dinilai sebagai moment illahiah, sehingga dalam buku yang terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Politische Theologie, tahun 1922, ini dipandang ranah teologis dalam politik.

Dengan memuliakan revolusi maka teorinya mensugestikan untuk tidak menilai sebagai seagungnya pemimpin bangsa atau sejatinya negarawan besar bila ia selama memerintah hanya menjaga kepatuhan pada UUD. Sehingga para penganut teori Schmitt tentu akan menilai kerdil pada Presiden SBY, sebab saat gonjang-ganjing perang hukum antara POLRI, Kejagung dan KPK bukan saja lamban mengambil keputusan tapi bahkan berulang mengatakan tak mau melanggar undang-undang.

Sekilas, teori Schmitt ini menggoda nalar. Tahun 1990-an, saat menyelesaikan bab tentang lembaga kepresidenan untuk buku Negara Sebenarnya, saya sampai harus berusaha menjelaskan betapa Kepala Pemerintahan bukan sekadar administrator atau eksekutor keputusan parlemen — meski memang Eksekutif dan Administrasi itulah fungsi utama pemerintahan dalam sistem negara modern demokratis. Saya berupaya menemukan rumusan yang harus lebih dari itu: Presiden adalah nahkoda bangsa di suatu zaman, yakni zaman yang dimasuki dan dijalani bangsanya berdasar panduannya yang ia paparkan sejak berkampanye sebagai politisi yang mempromosikan visinya. Itulah pula mengapa perlu sistem mekanistis yang memungkinkan visinya itu diperjuangkan dan dilegislasi dalam majelis rakyat, sebagai program pembangunan nasional, UU, maupun amandemen UUD.

Salomo hanya tampil melalui proses suksesi yang rutin menggantikan ayahnya yang mangkat, tapi terbukti menjadi maharaja dengan karya-karya luar biasa di mata dunia maupun Allah. Puluhan Presiden AS yang tampil maupun memerintah melalui proses yang sudah dipandang sebagai administrasi rutin (istilah “administrasi”

itu yang bahkan memang dipakai dalam tradisi politik kenegaraan AS, misalnya: Clinton Administration, Obama Adm.), namun terbukti masing-masingnya bisa menjulang sendiri sebagai pemimpin dunia.

Yang biasa dan rutinitas itu perlu, demi kepastian hukum dan tertib sosial yang memungkinkan warga hidup damai dan produktif, tapi yang luar biasa dan berani meletuskan revolusi pun perlu jika demi makin sempurnanya hukum dan warga makin cerdas, damai dan lebih produktif lagi.

Yang Luarbiasa tak punya hak etis maupun logis untuk meremehkan Yang Biasa, dan Yang Biasa jangan membelenggu kelahiran Yang Luarbiasa.

Tuhan memang Maha Pencipta, maka bolehlah Yang Luarbiasa, yang hanya mungkin lahir atas keputusan yang melampaui segala akal dan daya manusia biasa, yang luar biasa berani dalam mendobrak semua yang biasa, itu kita anggap sebagai moment teologis. Tetapi Tuhan pun mementingkan ketertiban, Ia setia menjaga ketetapan-ketetapan hukum-Nya, maka situasi tertib dan setia pun tak boleh untuk kita nyatakan bukan moment teologis.

Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010

Tags:

0 komentar to "'Teologi Politik'"

Posting Komentar