Tampilkan postingan dengan label Bupati-Walikota-Gubernur Se-Papua. Tampilkan semua postingan
Sensus 2010 Jumlah Orang Asli Papua Menurun
Written by Frans/Papos
Tuesday, 11 January 2011 00:00
MERAUKE [PAPOS]- Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH mengungkapkan, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, telah menunjukkan bahwa secara persentase dan proporsionalitas, orang asli Papua akan terus menurun jumlahnya, sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, khususnya akibat migrasi masuk.
“Orang asli Papua akan terus menurun jumlahnya sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, khususnya migrasi masuk. Oleh karena itu, pemekaran wilayah, tidak boleh membuat orang asli Papua menjadi tersisih bahkan tercabut dari tanah leluhurnya sendiri,” tegas Gubernur dalam sambutan tertulisnya pada Pelantikan Bupati Merauke, Sabtu (8/1).
Gubernur menjelaskan, untuk pemekaran wilayah Selatan Papua, sering dibicarakan para elit dan masyarakat luas. Untuk itu, perlu dijelaskan bahwa pemekaran adalah suatu proses alami yang terjadi sejalan dengan peningkatan kemampuan keuangan nasional serta daerah, pertumbuhan ekonomi juga kesiapan sumber daya manusia. “Kita akan bentuk tim yang terdiri dari para pakar dalam negeri maupun luar negeri guna melakukan suatu kajian secara komperhensif dan mendalam dengan pertimbangan strategis jangka panjang,” ungkap Gubrnur Papua.
Untuk itu, lanjut Gubernur, ada beberapa hal mutlak yang dijadikan dasar untuk studi dimaksud yakni bahwa pemekaran di Tanah Papua memberikan jaminan hak hidup, eksistensi serta perkembangan orang asli Papua dalam jangka panjang ke depan.
Studi yang dilakukan juga, harus memberikan alternatif tentang pola dan struktur pemerintahan dan administrasi yang cocok serta efisien dengan kondisi social, demografis dan geografis Tanah Papua. Sehingga tangan pelayanan pemerintah, benar-benar bisa lebih dekat melayani rakyat kecil.
“Kita harus cegah kecendrungan yang menggejalah belakangan ini bahwa pemekaran pemerintahan yang tidak disertai penyesuaian struktur dan administrasi, telah mengakibatkan anggaran pemerintah termasuk dana otonomi khusus lebih banyak digunakan untuk membiayai kegiatan birokrasi,” tegasnya.
Studi yang nantinya dilakukan ini, demikian Gubernur, harus mampu memberikan pedoman bahwa dalam jangka panjang, pembangunan ekonomi serta sosial di Tanah Papua, harus tetap dilaksanakan atas pertimbangan dan upaya sungguh-sungguh guna menjamin kelestarian lingkungan hidup. Karena hanya pada lingkungan hidup yang terpelihara, rakyat Papua dapat hidup dengan baik dan lestari. [frans]
Tuesday, 11 January 2011 00:00
MERAUKE [PAPOS]- Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH mengungkapkan, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, telah menunjukkan bahwa secara persentase dan proporsionalitas, orang asli Papua akan terus menurun jumlahnya, sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, khususnya akibat migrasi masuk.
“Orang asli Papua akan terus menurun jumlahnya sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, khususnya migrasi masuk. Oleh karena itu, pemekaran wilayah, tidak boleh membuat orang asli Papua menjadi tersisih bahkan tercabut dari tanah leluhurnya sendiri,” tegas Gubernur dalam sambutan tertulisnya pada Pelantikan Bupati Merauke, Sabtu (8/1).
Gubernur menjelaskan, untuk pemekaran wilayah Selatan Papua, sering dibicarakan para elit dan masyarakat luas. Untuk itu, perlu dijelaskan bahwa pemekaran adalah suatu proses alami yang terjadi sejalan dengan peningkatan kemampuan keuangan nasional serta daerah, pertumbuhan ekonomi juga kesiapan sumber daya manusia. “Kita akan bentuk tim yang terdiri dari para pakar dalam negeri maupun luar negeri guna melakukan suatu kajian secara komperhensif dan mendalam dengan pertimbangan strategis jangka panjang,” ungkap Gubrnur Papua.
Untuk itu, lanjut Gubernur, ada beberapa hal mutlak yang dijadikan dasar untuk studi dimaksud yakni bahwa pemekaran di Tanah Papua memberikan jaminan hak hidup, eksistensi serta perkembangan orang asli Papua dalam jangka panjang ke depan.
Studi yang dilakukan juga, harus memberikan alternatif tentang pola dan struktur pemerintahan dan administrasi yang cocok serta efisien dengan kondisi social, demografis dan geografis Tanah Papua. Sehingga tangan pelayanan pemerintah, benar-benar bisa lebih dekat melayani rakyat kecil.
“Kita harus cegah kecendrungan yang menggejalah belakangan ini bahwa pemekaran pemerintahan yang tidak disertai penyesuaian struktur dan administrasi, telah mengakibatkan anggaran pemerintah termasuk dana otonomi khusus lebih banyak digunakan untuk membiayai kegiatan birokrasi,” tegasnya.
Studi yang nantinya dilakukan ini, demikian Gubernur, harus mampu memberikan pedoman bahwa dalam jangka panjang, pembangunan ekonomi serta sosial di Tanah Papua, harus tetap dilaksanakan atas pertimbangan dan upaya sungguh-sungguh guna menjamin kelestarian lingkungan hidup. Karena hanya pada lingkungan hidup yang terpelihara, rakyat Papua dapat hidup dengan baik dan lestari. [frans]
Penembakan di Wamena Harus Diusut
Tuesday, 05 October 2010 02:29
Written by Administrator
E-mail Print PDF
JUBI --- Jhon Wetipo, Bupati Jayawijaya menegaskan kasus penembakan anggota penjaga Keamanan Tanah Papua oleh kepolisian di Wamena harus diusut tuntas.
“Harus diselesaikan sesuai dengan aturan yang berlaku selama ini di Negara Indonesia,” kata Jhon, Senin (4/10)
Menurut Jhon penembakan aparat kepolisian terhadap 3 anggota Petapa, hingga menewaskan Ismail Lokobal termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Sebelumnya bentrok terjadi antara polisi KP3 Udara Wamena dengan anggota Petapa (Penjaga Tanah Papua), Senin pagi.
Dalam bentrok tersebut 3 orang tertembak oleh aparat kepolisian, 5 orang ditahan di Polresta Jayawijaya dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. (Yarid Ap)
Written by Administrator
E-mail Print PDF
JUBI --- Jhon Wetipo, Bupati Jayawijaya menegaskan kasus penembakan anggota penjaga Keamanan Tanah Papua oleh kepolisian di Wamena harus diusut tuntas.
“Harus diselesaikan sesuai dengan aturan yang berlaku selama ini di Negara Indonesia,” kata Jhon, Senin (4/10)
Menurut Jhon penembakan aparat kepolisian terhadap 3 anggota Petapa, hingga menewaskan Ismail Lokobal termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Sebelumnya bentrok terjadi antara polisi KP3 Udara Wamena dengan anggota Petapa (Penjaga Tanah Papua), Senin pagi.
Dalam bentrok tersebut 3 orang tertembak oleh aparat kepolisian, 5 orang ditahan di Polresta Jayawijaya dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. (Yarid Ap)
Rp 15 Miliar Dana Bantuan Keagamaan Siap Dikucurkan
Senin, 06 September 2010 17:38
JAYAPURA—Pemerintah Provinsi Papua melalui kebijakan Gubernur kembali akan mengucurkan bantuan dana pembinaan dan pelayanan sebesar Rp 15 miliar kepada lembaga-lembaga keagamaan yang ada di Provinsi Papua.
Rencananya dana hibah yang bersumber dari dana Otsus tersebut akan dicairkan dalam waktu dekat, sebelum atau setelah lebaran langsung ke rekening masing-masing lembaga, bukan rekening pribadi.
Bantuan ini sebagai kelanjutan bantuan sebelumnya ini, diberikan secara proporsional kepada tiap-tiap lembaga keagamaan yang ada, baik Kristien, Katolik, Islam, Hindu dan Budha.
Adanya rencana pengucuran dana bantuan ini diungkapkan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, DR Achmad Hatari, M.SI saat melakukan rapat koordinasi dengan pimpinan-pimpinan lembaga keagamaan di Sasana Karya Kantor Gubernur, pekan lalu.
“Meski dana Otsus Papua sampai saat ini baru terealisasi 45 persen, tapi kita berani merealisasikan 100 persen untuk lembaga keagamaan. Ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah, dalam hal ini gubernur terhadap lembaga-lembaga keagamaan yang ada sebagai mitra pemerintah,”jelasnya di depan puluhan pimpinan lembaga keagamaan.
Hatari yang saat itu didampingi Kepala Biro Mental dan Spritual Setda Provinsi Papua, Martinus Ayomi SH, mengatakan, sebenarnya dari sisi
aturan, dana bantuan tidak dibenarkan diberikan secara berulang-ulang kepada lembaga yang sama, namun setelah pihaknya memperjuangkan ke pusat, akhirnya oleh pusat disetujui untuk diberikan. Karena itu dana ini pertanggungjawabannya harus ketat.
Hatari menjamin dana bantuan ini dicairkan ke rekening masing-masing lembaga dalam waktu dekat. “ Kita si berharap, kalau bisa sebelum lebaran. Sekarang tinggal tunggu tanda tangan SK Gubernur, begitu SK selesai, dananya bisa cair,”katanya menyakinkan.
Sementara itu Karo Binamental Spritual Setda Provinsi Papua, Marthinus Ayomi,SH mengatakan, dalam pertemuan itu selain mendapatkan kepastian pemberian bantuan, juga disampaikan tentang revisi SK Gubernur Provinsi Papua No 928.623 tahun 2009, tentang pemberian bantuan dana pembinaan dan pengembangan kepada lembaga-lembaga kegamaan tingkat sinodal di Provinsi Papua tahun 2009. Setelah dipelajari lagi akhirnya bunyi SK itu direvisi, menjadi Pemberian Bantuan Dana pembinaan dan pengembangan kepada lembaga-lembaga keagamaan. “Jadi kata tingkat Sinodal dihapus, sebab kesannya hanya diberikan kepada gereja-gereja saja, padahal bantuan ini juga diberikan kepada lembaga Islam, Hindu dan Budha,”jelasnya kepada Bintang Papua.
Dikatakan, meski dana ini sifatnya bantuan atau hibah dari pemerintah Provinsi Papua, namun laporan pertanggungjawabannya harus ketat. Untuk itu, bagi Lembaga penerima bantuan sebelumnya yang tidak dapat memberikan laporan pertanggungjawabkan, apalagi yang menyalahgunakan, maka besar kemungkinan bantuannya dipending.
Sebab dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan atas penggunaan bantuan sebelumnya, ternyata ditemukan sejumlah lembaga yang laporan pertanggunjawabannya tidak benar, sehingga itu akan menjadi cacatan untuk pemberian bantuan berikutnya. “Evaluasi bantuan lalu kami mencatat ada sekitar 6 penerima kategori A dan 8 Kategori B yang tidak jelas laporan pertanggungjawabannya. Kepada mereka ini kami usulkan kepada gubernur untuk dipending, jangan sampai masalahnya semakin panjang,”katanya lagi tanpa menyebutkan lembaga mana yang dimaksud tersebut.
Untuk itu dia berharap, lembaga-lembaga yang menerima bantuan ini betul-betul bisa mempertanggungjawabkan penggunaan dananya, laporan harus disertai bukti-bukti kwitansi.
Begitu juga jika ada lembaga yang ada dualisme kepemimpinannya, agar bisa menyelesaikan masalah mereka secara interen, sehingga bantuan ini dapat diberikan. “Jangan sampai bantuan ini semakin memperuncing masalah,”harapnya.
Ditanya soal jumlah lembaga penerima bantuan kali ini, apakah tetap sama dengan jumlah sebelumnya, Ayomi mengatakan, belum tahu persis. Sebab kemungkinan ada lembaga yang dipending, namun bisa juga ada penerima bertambah. Ini mengingat banyaknya proposal-proposal yang masuk ke pemerintah. Untuk diketahui pada penyaluran bantuan sebelumnya, yaitu 20 Oktober 2009, tercatat ada 47 lembaga penerima, yang dibagi dalam dua kategori. Untuk kategori A sebanyak 11 lembaga dan kategori B ada 36 lembaga. Besarnya bantuan bervariasi, mulai yang terbesar terbesar Rp 1,1 miliar sedangkan paling kecil Rp 100 juta.
Sementara itu informasi terakhir yang diterima Bintang Papua menyebutkan, kemungkinan pencairan dana bantuan ini diundur sampai bulan Oktober. Penundaan ini, karena gubernur mengharapkan lembaga yang sebelumnya bermasalah diselesaikan sebelum pencairan berikutnya, termasuk yang sudah dilaporkan ke polisi. Sebab, dari data yang diperoleh, ada sekitar 3 lembaga keagamaan yang dilaporkan ke polisi. Kasusnya beragam, seperti ada pimpinan lembaga yang menggunakan dana bantuan itu membeli mobil, atas nama pribadi, bukan atas nama lembaga, sehingga lembaga yang bersangkutan melaporkannya ke polisi. (don)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7167:rp-15-miliar-dana-bantuan-keagamaan-siap-dikucurkan&catid=25:headline&Itemid=96
Lembaga yang Bermasalah Terancam Dipending
Rencananya dana hibah yang bersumber dari dana Otsus tersebut akan dicairkan dalam waktu dekat, sebelum atau setelah lebaran langsung ke rekening masing-masing lembaga, bukan rekening pribadi.
Bantuan ini sebagai kelanjutan bantuan sebelumnya ini, diberikan secara proporsional kepada tiap-tiap lembaga keagamaan yang ada, baik Kristien, Katolik, Islam, Hindu dan Budha.
Adanya rencana pengucuran dana bantuan ini diungkapkan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, DR Achmad Hatari, M.SI saat melakukan rapat koordinasi dengan pimpinan-pimpinan lembaga keagamaan di Sasana Karya Kantor Gubernur, pekan lalu.
“Meski dana Otsus Papua sampai saat ini baru terealisasi 45 persen, tapi kita berani merealisasikan 100 persen untuk lembaga keagamaan. Ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah, dalam hal ini gubernur terhadap lembaga-lembaga keagamaan yang ada sebagai mitra pemerintah,”jelasnya di depan puluhan pimpinan lembaga keagamaan.
Hatari yang saat itu didampingi Kepala Biro Mental dan Spritual Setda Provinsi Papua, Martinus Ayomi SH, mengatakan, sebenarnya dari sisi
aturan, dana bantuan tidak dibenarkan diberikan secara berulang-ulang kepada lembaga yang sama, namun setelah pihaknya memperjuangkan ke pusat, akhirnya oleh pusat disetujui untuk diberikan. Karena itu dana ini pertanggungjawabannya harus ketat.
Hatari menjamin dana bantuan ini dicairkan ke rekening masing-masing lembaga dalam waktu dekat. “ Kita si berharap, kalau bisa sebelum lebaran. Sekarang tinggal tunggu tanda tangan SK Gubernur, begitu SK selesai, dananya bisa cair,”katanya menyakinkan.
Sementara itu Karo Binamental Spritual Setda Provinsi Papua, Marthinus Ayomi,SH mengatakan, dalam pertemuan itu selain mendapatkan kepastian pemberian bantuan, juga disampaikan tentang revisi SK Gubernur Provinsi Papua No 928.623 tahun 2009, tentang pemberian bantuan dana pembinaan dan pengembangan kepada lembaga-lembaga kegamaan tingkat sinodal di Provinsi Papua tahun 2009. Setelah dipelajari lagi akhirnya bunyi SK itu direvisi, menjadi Pemberian Bantuan Dana pembinaan dan pengembangan kepada lembaga-lembaga keagamaan. “Jadi kata tingkat Sinodal dihapus, sebab kesannya hanya diberikan kepada gereja-gereja saja, padahal bantuan ini juga diberikan kepada lembaga Islam, Hindu dan Budha,”jelasnya kepada Bintang Papua.
Dikatakan, meski dana ini sifatnya bantuan atau hibah dari pemerintah Provinsi Papua, namun laporan pertanggungjawabannya harus ketat. Untuk itu, bagi Lembaga penerima bantuan sebelumnya yang tidak dapat memberikan laporan pertanggungjawabkan, apalagi yang menyalahgunakan, maka besar kemungkinan bantuannya dipending.
Sebab dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan atas penggunaan bantuan sebelumnya, ternyata ditemukan sejumlah lembaga yang laporan pertanggunjawabannya tidak benar, sehingga itu akan menjadi cacatan untuk pemberian bantuan berikutnya. “Evaluasi bantuan lalu kami mencatat ada sekitar 6 penerima kategori A dan 8 Kategori B yang tidak jelas laporan pertanggungjawabannya. Kepada mereka ini kami usulkan kepada gubernur untuk dipending, jangan sampai masalahnya semakin panjang,”katanya lagi tanpa menyebutkan lembaga mana yang dimaksud tersebut.
Untuk itu dia berharap, lembaga-lembaga yang menerima bantuan ini betul-betul bisa mempertanggungjawabkan penggunaan dananya, laporan harus disertai bukti-bukti kwitansi.
Begitu juga jika ada lembaga yang ada dualisme kepemimpinannya, agar bisa menyelesaikan masalah mereka secara interen, sehingga bantuan ini dapat diberikan. “Jangan sampai bantuan ini semakin memperuncing masalah,”harapnya.
Ditanya soal jumlah lembaga penerima bantuan kali ini, apakah tetap sama dengan jumlah sebelumnya, Ayomi mengatakan, belum tahu persis. Sebab kemungkinan ada lembaga yang dipending, namun bisa juga ada penerima bertambah. Ini mengingat banyaknya proposal-proposal yang masuk ke pemerintah. Untuk diketahui pada penyaluran bantuan sebelumnya, yaitu 20 Oktober 2009, tercatat ada 47 lembaga penerima, yang dibagi dalam dua kategori. Untuk kategori A sebanyak 11 lembaga dan kategori B ada 36 lembaga. Besarnya bantuan bervariasi, mulai yang terbesar terbesar Rp 1,1 miliar sedangkan paling kecil Rp 100 juta.
Sementara itu informasi terakhir yang diterima Bintang Papua menyebutkan, kemungkinan pencairan dana bantuan ini diundur sampai bulan Oktober. Penundaan ini, karena gubernur mengharapkan lembaga yang sebelumnya bermasalah diselesaikan sebelum pencairan berikutnya, termasuk yang sudah dilaporkan ke polisi. Sebab, dari data yang diperoleh, ada sekitar 3 lembaga keagamaan yang dilaporkan ke polisi. Kasusnya beragam, seperti ada pimpinan lembaga yang menggunakan dana bantuan itu membeli mobil, atas nama pribadi, bukan atas nama lembaga, sehingga lembaga yang bersangkutan melaporkannya ke polisi. (don)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7167:rp-15-miliar-dana-bantuan-keagamaan-siap-dikucurkan&catid=25:headline&Itemid=96
Selamat Jalan, Bapak Berbudi !
Minggu, 05 September 2010 18:05
Oleh : Walhamri Wahid
“Bapak harus singgah ...... harus singgah ....... makan suguhan terakhir dari kami, karena ini saja yang bisa kami berikan sebagai tanda terima kasih!, celetuk seorang ibu kepada rombongan Bupati yang tiba di Kampung Yamna baru yang diamini oleh seluruh warga lainnya, dan akhirnya rombongan Bupati pun berbelok ke halaman Balai Kampung di bawah sebuah pohon sukun menanti deretan makanan asli masyarakat berupa bete, singkong rebus, pisang bakar, dan sagu kering semuanya makanan kegemaran E. Fonataba yang sudah dihapal oleh masyarakat.
Hampir semua masyarakat memiliki kenangan yang mendalam dengan sosok E. Fonataba, apalagi masyarakat Distrik Pantai Timur, karena sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kadistrik di daerah tersebut, tinggal bersama istri dan dua anaknya yang kini sudah dewasa bahkan berkeluarga yakni Erik Fonataba yang bekerja di Dinas PU Provinsi dan Edwin Fonataba yang menjadi anggota DPRD Kota Jayapura.
“aduuh, ...... anak ! kenapa ko` baru muncul setelah Bapak mau turun, Mama rindu sekali dengan kamu dua yang sudah besar sekarang !”, rintih seorang ibu tua sambil memeluk Erik Fonataba dan Edwin bergantian.
Di tengah deraian air mata, masyarakat bersama – sama Bupati dan keluarga menikmati hidangan yang disediakan hari itu dengan diiringi lagu – lagu ciptaan masyarakat sendiri berisi ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada E. Fonataba, lagu – lagu yang dibawakan dengan lirik sederhana dan polos apa adanya benar – benar menyentuh hati E. Fonataba sehingga ia-pun dibuat menangis terharu bersama – sama dengan masyarakat.
“Lima tahun Bapak melayani kami di Sarmi ........ tanpa cape` siang dan malam Bapak ...... sampai sekarang Bapak mau pulang tinggalkan kami .........”, lirik yang dibawakan penuh perasaan dengan iringan air mata dan pandangan menerawang masa – masa sulit membuat suasana benar – benar mengharu biru.
Usai masyarakat memanjatkan doa khusus kepada keluarga itu, perjalanan dilanjutkan kembali, dari depan pintu rumah rakyat yang sudah dibangun, anak – anak kecil bersama ibu mereka melambaikan tangan.
Di batas kampung mendekati Betaf Ibukota Distrik Pantai Timur, segerombolan masyarakat sudah menanti Bupati dan keluarga beserta rombongan mobil dan motor yang bertambah panjang, karena masyarakat di kampung – kampung yang dilalui ikut dalam antrian dan turut mengantarkan.
“Selamat jalan Bapak berbudi ...... Belum Sempat kami membalas mu, ......... mengapa engkau tega meninggalkan kami !”, lagu tersebut terus dinyanyikan masyarakat berulang – ulang sembari mengusap air mata mereka yang tidak berhenti menetes sambil memeluk erat dan mencium seluruh keluarga Fonataba berulang – ulang seakan tidak ingin melepaskan mereka.
Prosesi tersebut didahului dengan menghamburkan bunga – bunga kepada Bupati dan istrinya begitu turun dari mobil, dan akhirnya seluruh masyarakat kampung mengarak mereka ke dalam gereja untuk melakukan ibadah singkat dimana seluruh masyarakat Betaf memanjatkan doa syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan mereka pemimpin yang benar – benar mencintai rakyatnya.
Keluar dari gereja, kelompok masyarakat lainnya langsung menyambut dan mengarak Bupati dan keluarganya ke rumah Ondoafi yang berjarak sekitar 500 meter dari gereja untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan, sambutan masyarakat lebih luar biasa, saking tak kuat menahan keharuan terlihat beberapa kali Ny. Amelia harus dibopong oleh kedua anaknya Esti dan Edmund supaya bisa berjalan, karena semua masyarakat berebut ingin memeluk dan mencium keduanya.
Peristiwa demi peristiwa mengharukan tersebut terus dialami oleh keluarga E. Fonataba, setelah dari betaf lanjut ke Kampung Ansudu, Biri II, Anus, Podena, sampai ke Distrik Bonggo dan Bonggo Timur, dimana hingga malam hari masyarakat di kedua distrik tersebut yang paling akhir melepas kepulangan Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM ke Jayapura.
“kami masih membutuhkan Bapak ........ kami tidak ingin Bapak pergi ! ......” seru masyarakat Tetom Jaya yang sedari pagi berdiri di tepi jalan dengan memajang spanduk besar melepas pemimpin mereka.
Hingga malam hari, terakhir rombongan keluar dari Kampung Kapitiau perlahan rombongan bertolak ke Jayapura, dan akhirnya tiba di Jayapura sekitar pukul 12.00 WIT, ada kepuasan, ada kesedihan, namun semua bermuara pada satu ucapan syukur atas apa yang sudah Tuhan persembahkan kepada masyarakat Sarmi, seperti janjinya, barang siapa yang mengutamakan Tuhan niscaya Tuhan akan memenuhi semua kebutuhannya, dan kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang benar – benar merakyat dan penuh dengan cinta kasih telah ditunjukkan oleh sosok Drs. E. Fonataba, MM.
Andai saja pasir, dahan, dan pepohonan bisa bicara, mereka juga pasti akan berseru dan menangis melepaskan kepergian sosok yang dengan setia melewati tugas – tugas beratnya di Kabupaten Sarmi, menjejak pasir, dan ombak laut serta dedahanan hijau hanya untuk melayani masyarakat, andai saja semua pemimpin kita di Papua bisa memberikan contoh seperti ini, mimpi akan Papua yang sejahtera bukan sekedar mimpi, tapi kenyataan seperti yang sudah ditunjukkan oleh Drs. E. Fonataba, MM di Sarmi.
“dulu saya tidak percaya kalau gunung dapat dipindahkan atau lautan dapat dikeringkan, setelah bertugas di Sarmi barulah saya mempercayai ungkapan itu, karena tidak ada yang tidak bisa kalau kita percaya dengan Tuhan”, kata – kata Fonataba dalam setiap kesempatan kepada rakyatnya.
Untuk kesungguhannya membuat yang tidak ada menjadi ada, yang tidak mampu menjadi mampu, yang lemah dikuatkan, yang salah dibetulkan dengan kasih sayang, pantaslah kiranya julukan yang diberikan masyarakat Betaf kepadanya “Bapak Berbudi Baik”, karena ia sudah mampu menunjukkan bagaimana Memimpin Dengan Hati. (habis)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7114:selamat-jalan-bapak-berbudi-&catid=25:headline&Itemid=96
Saat – Saat Terakhir Keluarga Drs. E. Fonataba, MM di Kabupaten Sarmi (Bagian 2/habis)
Selamat Jalan, Bapak Berbudi !
15 jam mengharukan dilalui oleh Drs. E. Fonataba, MM bersama keluarganya sepanjang jalan Sarmi – Jayapura yang lazimnya bisa ditempuh hanya dengan 6 jam saja, pagar betis rakyat mulai dari orang tua, remaja, anak – anak berbaju maupun tidak berbaju seakan berebut tidak ingin kehilangan moment terakhir kalinya mengucapkan selamat jalan Bapak Berbudi, julukan yang diberikan lewat lagu oleh masyarakat Betaf kepada sosok Drs. E. Fonataba, MM, dari pagi hingga malam hari.Oleh : Walhamri Wahid
Hampir semua masyarakat memiliki kenangan yang mendalam dengan sosok E. Fonataba, apalagi masyarakat Distrik Pantai Timur, karena sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kadistrik di daerah tersebut, tinggal bersama istri dan dua anaknya yang kini sudah dewasa bahkan berkeluarga yakni Erik Fonataba yang bekerja di Dinas PU Provinsi dan Edwin Fonataba yang menjadi anggota DPRD Kota Jayapura.
“aduuh, ...... anak ! kenapa ko` baru muncul setelah Bapak mau turun, Mama rindu sekali dengan kamu dua yang sudah besar sekarang !”, rintih seorang ibu tua sambil memeluk Erik Fonataba dan Edwin bergantian.
Di tengah deraian air mata, masyarakat bersama – sama Bupati dan keluarga menikmati hidangan yang disediakan hari itu dengan diiringi lagu – lagu ciptaan masyarakat sendiri berisi ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada E. Fonataba, lagu – lagu yang dibawakan dengan lirik sederhana dan polos apa adanya benar – benar menyentuh hati E. Fonataba sehingga ia-pun dibuat menangis terharu bersama – sama dengan masyarakat.
“Lima tahun Bapak melayani kami di Sarmi ........ tanpa cape` siang dan malam Bapak ...... sampai sekarang Bapak mau pulang tinggalkan kami .........”, lirik yang dibawakan penuh perasaan dengan iringan air mata dan pandangan menerawang masa – masa sulit membuat suasana benar – benar mengharu biru.
Usai masyarakat memanjatkan doa khusus kepada keluarga itu, perjalanan dilanjutkan kembali, dari depan pintu rumah rakyat yang sudah dibangun, anak – anak kecil bersama ibu mereka melambaikan tangan.
Di batas kampung mendekati Betaf Ibukota Distrik Pantai Timur, segerombolan masyarakat sudah menanti Bupati dan keluarga beserta rombongan mobil dan motor yang bertambah panjang, karena masyarakat di kampung – kampung yang dilalui ikut dalam antrian dan turut mengantarkan.
“Selamat jalan Bapak berbudi ...... Belum Sempat kami membalas mu, ......... mengapa engkau tega meninggalkan kami !”, lagu tersebut terus dinyanyikan masyarakat berulang – ulang sembari mengusap air mata mereka yang tidak berhenti menetes sambil memeluk erat dan mencium seluruh keluarga Fonataba berulang – ulang seakan tidak ingin melepaskan mereka.
Prosesi tersebut didahului dengan menghamburkan bunga – bunga kepada Bupati dan istrinya begitu turun dari mobil, dan akhirnya seluruh masyarakat kampung mengarak mereka ke dalam gereja untuk melakukan ibadah singkat dimana seluruh masyarakat Betaf memanjatkan doa syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena telah mengirimkan mereka pemimpin yang benar – benar mencintai rakyatnya.
Keluar dari gereja, kelompok masyarakat lainnya langsung menyambut dan mengarak Bupati dan keluarganya ke rumah Ondoafi yang berjarak sekitar 500 meter dari gereja untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan, sambutan masyarakat lebih luar biasa, saking tak kuat menahan keharuan terlihat beberapa kali Ny. Amelia harus dibopong oleh kedua anaknya Esti dan Edmund supaya bisa berjalan, karena semua masyarakat berebut ingin memeluk dan mencium keduanya.
Peristiwa demi peristiwa mengharukan tersebut terus dialami oleh keluarga E. Fonataba, setelah dari betaf lanjut ke Kampung Ansudu, Biri II, Anus, Podena, sampai ke Distrik Bonggo dan Bonggo Timur, dimana hingga malam hari masyarakat di kedua distrik tersebut yang paling akhir melepas kepulangan Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM ke Jayapura.
“kami masih membutuhkan Bapak ........ kami tidak ingin Bapak pergi ! ......” seru masyarakat Tetom Jaya yang sedari pagi berdiri di tepi jalan dengan memajang spanduk besar melepas pemimpin mereka.
Hingga malam hari, terakhir rombongan keluar dari Kampung Kapitiau perlahan rombongan bertolak ke Jayapura, dan akhirnya tiba di Jayapura sekitar pukul 12.00 WIT, ada kepuasan, ada kesedihan, namun semua bermuara pada satu ucapan syukur atas apa yang sudah Tuhan persembahkan kepada masyarakat Sarmi, seperti janjinya, barang siapa yang mengutamakan Tuhan niscaya Tuhan akan memenuhi semua kebutuhannya, dan kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang benar – benar merakyat dan penuh dengan cinta kasih telah ditunjukkan oleh sosok Drs. E. Fonataba, MM.
Andai saja pasir, dahan, dan pepohonan bisa bicara, mereka juga pasti akan berseru dan menangis melepaskan kepergian sosok yang dengan setia melewati tugas – tugas beratnya di Kabupaten Sarmi, menjejak pasir, dan ombak laut serta dedahanan hijau hanya untuk melayani masyarakat, andai saja semua pemimpin kita di Papua bisa memberikan contoh seperti ini, mimpi akan Papua yang sejahtera bukan sekedar mimpi, tapi kenyataan seperti yang sudah ditunjukkan oleh Drs. E. Fonataba, MM di Sarmi.
“dulu saya tidak percaya kalau gunung dapat dipindahkan atau lautan dapat dikeringkan, setelah bertugas di Sarmi barulah saya mempercayai ungkapan itu, karena tidak ada yang tidak bisa kalau kita percaya dengan Tuhan”, kata – kata Fonataba dalam setiap kesempatan kepada rakyatnya.
Untuk kesungguhannya membuat yang tidak ada menjadi ada, yang tidak mampu menjadi mampu, yang lemah dikuatkan, yang salah dibetulkan dengan kasih sayang, pantaslah kiranya julukan yang diberikan masyarakat Betaf kepadanya “Bapak Berbudi Baik”, karena ia sudah mampu menunjukkan bagaimana Memimpin Dengan Hati. (habis)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7114:selamat-jalan-bapak-berbudi-&catid=25:headline&Itemid=96
Sarmi Menangis !
Jumat, 03 September 2010 21:04
Oleh : Walhamri Wahid
Adoohh, ..... Bapak ko` tra` boleh pergi tinggalkan kami ! Kalau ko` pergi siapa lagi yang mau datang lihat kami setiap hari, hanya ko` saja yang mengerti kami !....... Ko` tra` boleh turun jabatan ! ............ ungkap seorang lelaki tua berbaju kuning bergambar Drs. Fonataba, MM dan Berthus Kyeu Kyeu, BA, MPA, kenangan lima tahun lampau saat mereka masih getol berkampanye.
Layaknya seorang anak kecil yang meminta dan mengharapkan sesuatu dari orang tuanya, tangis mereka begitu keras, merengek di dada bidang Drs. E. Fonataba, MM yang juga tidak dapat menahan sedih menangis dalam rasa terima kasih dan ucapan syukur, ada rasa cinta kasih dan berat hati untuk berpisah, tapi tugas juga yang memisahkan.
Bapak tua tersebut tidak sendiri, hampir semua yang ada di tempat itu menangis terisak – isak menahan haru, tepatnya di tepi jalan Kampung Arare, di atas aspal hitam yang menghampar mulus membelah kampung yang dulunya tidak ada satupun warganya berani membayangkan itu semua.
Sejak malam Kamis (2/9) langit seakan menangis mengguyurkan tetes demi tetes kesejukannya menghapus debu – debu yang menggelayut manja di pucuk – pucuk rerumputan menyisakan semerbak kesegaran tanah Kanaan yang subur pertanda ada suka cita dan kesejahteraan diatas bumi Sarmi yang dulu dikenal sebagai daerah yang serba minim baik sarana maupun SDM-nya.
Karena malam itu di Lapangan Diklat Sarmi di Kota Baru Petam, berduyun – duyun umat Tuhan yang pandai bersyukur memanjatkan doa dan pujian kepada Tuhan sebagai penghantar hambanya yang berbudi Drs.E.Fonataba, MM yang harus meninggalkan bulir – bulir padi yang siap di panen bagi generasi muda Sarmi kembali ke lahan baru yang menanti untuk ditanami.
Meski sejak 26 Agustus lalu, masa jabatannya berakhir, namun seluruh masyarakat Sarmi seakan tidak rela melepasnya pergi kembali ke Jayapura, usai ibadah syukur di malam hari dilanjutkan dengan tari lemon nipis oleh muda – mudi di malam harinya mendekati pagi, sekitar pukul 08.00 WIT, kembali tetes bening dari mata yang merindu kembali membasahi Bumi Petam, berangkat dari kediaman Bupati keluarga besar Fonataba berkemas untuk bertolak ke Jayapura.
Erik Fonataba anak tertua yang kini berdinas di PU Provinsi Papua lengkap dengan anak dan istrinya, Edwin Fonataba anak kedua yang kini duduk di kursi DPRD Kota Jayapura sebagai anggota, serta Edmun dan Esti Fonataba, kesemuanya buah hati dari pasangan Drs. E. Fonataba, MM dan Ny. Amelia Waromi Fonataba dengan dikawal oleh teman, kerabat, dan masyarakat beriringan dengan roda empat sebanyak 30 unit bertolak meninggalkan ketinggian Bukit Petam.
Semua yang melepas keluarga tersebut meneteskan air mata, rombongan bergerak membelah jalan berkelok menuju Kasukwe, beberapa kali dihadang oleh masyarakat Kampung Kasukwe dengan kesedihan mendalam enggan melepaskan kepergian keluarga tersebut.
Setelah mengitari Kota Sarmi yang dihiasi dengan lambaian tangan – tangan yang seakan terus berucap “Terima kasih Bapak, karena kerja kerasmu kami sekarang bangga tinggal di Sarmi”, Drs. E. Fonataba, MM dan Ny. Amelia Fonataba duduk dalam mobil yang di kemudikan Semuel Kadu seorang rekan pengusaha, meninggalkan semua atribut kekuasaan yang dulu melekat padanya.
Selepas dari Mararena, melintasi Kampung Sawar jejalan masyarakat dengan suling tambur menanti sejak pagi hari di tepian jalan di dekat Pasar Sawar, keharuan merebak, dan semuanya hanyut dalam atmosfir perpisahan yang teramat dalam dan membekas.
“kenapa terlalu cepat bapak harus pergi, kami belum bisa balas apa – apa untuk semua”, kata Kepala Kampung Sawar sambil memeluk tubuh dan membasahi baju lengan panjang putih Drs. E. Fonataba, MM dengan air mata kesedihan.
Semua anak, menantu dan cucu turun dari mobil dan menerima uluran tangan terima kasih dari masyarakat Sawar, sepanjang jalan masyarakat berlarian secara spontan dari dalam rumah mereka untuk sekedar melihat lambaian tangan dan menangkap kelembutan pancaran kasih dari dua sosok yang menumpang di belakang kemudi mobil berwarna abu – abu itu untuk terakhir kalinya.
Sesampainya di Bagaiserwar I, hal yang sama terjadi lagi, lambaian tangan seakan tidak akan putus, beberapa mama – mama yang sudah umur berlarian ke jalan sekedar ingin berjabat tangan, terus sampai ke Bagaiserwar II, melewati Kampung Tanjung Batu terus sampai ke Holmafen.
Di depan SD Inpres Holmafen, murid – murid yang tengah belajar berlarian keluar di temani para pengajar karena mendengar bunyi sirene mobil pengawal yang menyampaikan khabar lebih dulu.
“Bapak jangan pergi ..... !”, “Bapak Selamat Jalan ! Jangan lupakan kami !”, teriak anak – anak sembari melambaikan topi mereka kepada rombongan Bupati dan keluarga yang akhirnya terketuk hati untuk mampir sejenak menjabat tangan – tangan mungil harapan Sarmi ke depan itu.
Memasuki Kampung Holmafen, masih di ujung kampung di dekat jejeran rumah – rumah rakyat, berbaris rapi masyarakat kampung dengan mata yang memerah dan air muka sedih melambai – lambaikan patahan dahan kakao berwarna hijau seakan hendak mengatakan bahwa ada kesejahteraan dan suka cita di kampung tersebut.
Tanpa di komando kerumunan masyarakat merangsek ke tengah jalan dan membentuk pagar betis memaksa Drs. E. Fonataba bersama istri dan anak – anak harus turun dari mobil untuk menerima ucapan terima kasih dari rakyat yang mencintai mereka. Dan adegan melankolis kembali berulang di depan mata dan memaksa siapa saja yang berada di sekitarnya akan hanyut dalam suasana.
“kalo bukan Mama dengan Bapak kami tra` akan pernah punya rumah bagus, kami masih ibadah di gereja dinding gaba – gaba dan atap sagu, tra` akan punya gereja besar, kami tra` mau Mama dengan Bapak pergi !”, rintih seorang ibu berseragam batik PKK warna hijau yang lari menubruk Ny. Amelia Fonataba dan menangis sejadi – jadinya. (Bersambung)........
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7097:sarmi-menangis--&catid=25:headline&Itemid=96
Saat – Saat Terakhir Keluarga Drs. E. Fonataba, MM di Kabupaten Sarmi (Bagian 1)
Sarmi Menangis !
Sarmi menangis, tiap mata yang pernah menyaksikan kesulitan dan nestapa orang Sarmi dipastikan akan memerah mengalirkan rasa suka cita, bangga, bahagia yang bercampur menjadi sedih tak ingin berpisah, terkenang sosok yang menghabiskan seluruh waktu, pikiran, dan tenaganya untuk mengangkat derajat dan memandirikan orang Sarmi, tanah yang menjadi tempat kelahiran keduanya. Terima kasih Bapak Fonataba, Bapak Berbudi ! Engkau patut diantar layaknya menyambut seorang Pahlawan yang kembali dari medan perang dengan sejuta kemenangan.Oleh : Walhamri Wahid
Layaknya seorang anak kecil yang meminta dan mengharapkan sesuatu dari orang tuanya, tangis mereka begitu keras, merengek di dada bidang Drs. E. Fonataba, MM yang juga tidak dapat menahan sedih menangis dalam rasa terima kasih dan ucapan syukur, ada rasa cinta kasih dan berat hati untuk berpisah, tapi tugas juga yang memisahkan.
Bapak tua tersebut tidak sendiri, hampir semua yang ada di tempat itu menangis terisak – isak menahan haru, tepatnya di tepi jalan Kampung Arare, di atas aspal hitam yang menghampar mulus membelah kampung yang dulunya tidak ada satupun warganya berani membayangkan itu semua.
Sejak malam Kamis (2/9) langit seakan menangis mengguyurkan tetes demi tetes kesejukannya menghapus debu – debu yang menggelayut manja di pucuk – pucuk rerumputan menyisakan semerbak kesegaran tanah Kanaan yang subur pertanda ada suka cita dan kesejahteraan diatas bumi Sarmi yang dulu dikenal sebagai daerah yang serba minim baik sarana maupun SDM-nya.
Karena malam itu di Lapangan Diklat Sarmi di Kota Baru Petam, berduyun – duyun umat Tuhan yang pandai bersyukur memanjatkan doa dan pujian kepada Tuhan sebagai penghantar hambanya yang berbudi Drs.E.Fonataba, MM yang harus meninggalkan bulir – bulir padi yang siap di panen bagi generasi muda Sarmi kembali ke lahan baru yang menanti untuk ditanami.
Meski sejak 26 Agustus lalu, masa jabatannya berakhir, namun seluruh masyarakat Sarmi seakan tidak rela melepasnya pergi kembali ke Jayapura, usai ibadah syukur di malam hari dilanjutkan dengan tari lemon nipis oleh muda – mudi di malam harinya mendekati pagi, sekitar pukul 08.00 WIT, kembali tetes bening dari mata yang merindu kembali membasahi Bumi Petam, berangkat dari kediaman Bupati keluarga besar Fonataba berkemas untuk bertolak ke Jayapura.
Erik Fonataba anak tertua yang kini berdinas di PU Provinsi Papua lengkap dengan anak dan istrinya, Edwin Fonataba anak kedua yang kini duduk di kursi DPRD Kota Jayapura sebagai anggota, serta Edmun dan Esti Fonataba, kesemuanya buah hati dari pasangan Drs. E. Fonataba, MM dan Ny. Amelia Waromi Fonataba dengan dikawal oleh teman, kerabat, dan masyarakat beriringan dengan roda empat sebanyak 30 unit bertolak meninggalkan ketinggian Bukit Petam.
Semua yang melepas keluarga tersebut meneteskan air mata, rombongan bergerak membelah jalan berkelok menuju Kasukwe, beberapa kali dihadang oleh masyarakat Kampung Kasukwe dengan kesedihan mendalam enggan melepaskan kepergian keluarga tersebut.
Setelah mengitari Kota Sarmi yang dihiasi dengan lambaian tangan – tangan yang seakan terus berucap “Terima kasih Bapak, karena kerja kerasmu kami sekarang bangga tinggal di Sarmi”, Drs. E. Fonataba, MM dan Ny. Amelia Fonataba duduk dalam mobil yang di kemudikan Semuel Kadu seorang rekan pengusaha, meninggalkan semua atribut kekuasaan yang dulu melekat padanya.
Selepas dari Mararena, melintasi Kampung Sawar jejalan masyarakat dengan suling tambur menanti sejak pagi hari di tepian jalan di dekat Pasar Sawar, keharuan merebak, dan semuanya hanyut dalam atmosfir perpisahan yang teramat dalam dan membekas.
“kenapa terlalu cepat bapak harus pergi, kami belum bisa balas apa – apa untuk semua”, kata Kepala Kampung Sawar sambil memeluk tubuh dan membasahi baju lengan panjang putih Drs. E. Fonataba, MM dengan air mata kesedihan.
Semua anak, menantu dan cucu turun dari mobil dan menerima uluran tangan terima kasih dari masyarakat Sawar, sepanjang jalan masyarakat berlarian secara spontan dari dalam rumah mereka untuk sekedar melihat lambaian tangan dan menangkap kelembutan pancaran kasih dari dua sosok yang menumpang di belakang kemudi mobil berwarna abu – abu itu untuk terakhir kalinya.
Sesampainya di Bagaiserwar I, hal yang sama terjadi lagi, lambaian tangan seakan tidak akan putus, beberapa mama – mama yang sudah umur berlarian ke jalan sekedar ingin berjabat tangan, terus sampai ke Bagaiserwar II, melewati Kampung Tanjung Batu terus sampai ke Holmafen.
Di depan SD Inpres Holmafen, murid – murid yang tengah belajar berlarian keluar di temani para pengajar karena mendengar bunyi sirene mobil pengawal yang menyampaikan khabar lebih dulu.
“Bapak jangan pergi ..... !”, “Bapak Selamat Jalan ! Jangan lupakan kami !”, teriak anak – anak sembari melambaikan topi mereka kepada rombongan Bupati dan keluarga yang akhirnya terketuk hati untuk mampir sejenak menjabat tangan – tangan mungil harapan Sarmi ke depan itu.
Memasuki Kampung Holmafen, masih di ujung kampung di dekat jejeran rumah – rumah rakyat, berbaris rapi masyarakat kampung dengan mata yang memerah dan air muka sedih melambai – lambaikan patahan dahan kakao berwarna hijau seakan hendak mengatakan bahwa ada kesejahteraan dan suka cita di kampung tersebut.
Tanpa di komando kerumunan masyarakat merangsek ke tengah jalan dan membentuk pagar betis memaksa Drs. E. Fonataba bersama istri dan anak – anak harus turun dari mobil untuk menerima ucapan terima kasih dari rakyat yang mencintai mereka. Dan adegan melankolis kembali berulang di depan mata dan memaksa siapa saja yang berada di sekitarnya akan hanyut dalam suasana.
“kalo bukan Mama dengan Bapak kami tra` akan pernah punya rumah bagus, kami masih ibadah di gereja dinding gaba – gaba dan atap sagu, tra` akan punya gereja besar, kami tra` mau Mama dengan Bapak pergi !”, rintih seorang ibu berseragam batik PKK warna hijau yang lari menubruk Ny. Amelia Fonataba dan menangis sejadi – jadinya. (Bersambung)........
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7097:sarmi-menangis--&catid=25:headline&Itemid=96
Enembe Direstui SBY Jadi Calon Gubernur
Kamis, 02 September 2010 16:48
JAYAPURA—Meski pemilihan Gubernur Provinsi Papua masih setahun lagi, yakni 2011 mendatang, namun para kandidat calon mulai diwacanakan sampai ke pusat. Kabar terbaru menyebutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga adalah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat telah merestui Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua Lukas Enembe S.IP untuk menjadi calon Gubernur Provinsi Papua 2011-2016 mendatang. “Pak SBY memberikan lampu hijau mendukung Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua untuk menjadi calon Gubernur Provinsi Papua mendatang,” jelas Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua sekaligus Korwil DPP Partai Demokrat wilayah Papua, Maluku dan Maluku Utara Lukas Enembe S.IP ketika ditanya Bintang Papua di Jayapura, Kamis (2/9) kemarin terkait wacana Pemilukada Gubernur/Wagub Provinsi Papua dikembalikan kepada DPRP sesuai amanat UU No 21 Tahun 201 tentang Otsus Papua.
Karena itu, menurut Bupati Puncak Jaya ini, baik Pemilukada Gubernur/Wagub melalui rakyat maupun dikembalikan kepada DPRP ada kelebihan dan ada kekurangan. Bagi Partai Demokrat cara apapun mau dipakai, baik pemilihan di DPRP maupun pemilihan rakyat selalu siap mengikutinya. Partai Demokrat sudah kerja baik tingkat DPP, DPD maupun DPC. “Tapi kita dudukan persoalan ini secara baik apa yang terbaik Tanah Papua dan demokrasi Indonesia. Persoalan pemilihan langsung maupun DPR P harus didudukan dalam konteks Papua dan konteks kepentingan nasional.
Dia mengatakan, baik Pemilukada Gubernur/Wagub Provinsi Papua dipilihan langsung oleh rakyat ataupun pemilihannya dikembalikan ke DPRP keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Pasalnya, Pemilukada dipilih rakyat secara langsung khusus kondisi Papua. Pertama, Pemilukada langsung membutuhkan biaya yang besar, baik penyelenggara maupun petarung. Kedua, kondisi masyarakat Papua dimana sebagian kawasan selama ini secara riil dilapangan mereka sesungguhnya tak menyalurkan aspirasi secara baik. Hal ini terbukti dari berbagai Pemilukada maupun Pemilu Legislatif yang dilewati. Pemilukada maupun Pemilu Legislatif hanya mengatasnamakan rakyat dan mengatasnamakan demokrasi, tapi ada sekelompok orang saja yang melakukan itu.
“Itu yang sudah terjadi di Tanah Papua selama bertahun tahun,” tandasnya.
Menurut dia, itulah salah satu dari banyak kelemahan apabila Pemilukada dilaksanakan lewat rakyat. Tapi ada keunggulan keunggulan juga dengan memasuki reformasi ini rakyat mempunyai hak memilih pemimpinya.
“Demokrasi yang kita baru bangun ini kan tak bisa dimatikan di tengah jalan. Demokrasi itu harus dibangun melalui suatu proses panjang. Kita baru 10 tahun reformasi kita jalan ujian ini harus kita lewati,” tuturnya.
Ia mencontohkan, Amerika Serikat yang ratusan tahun sudah menjalankan demokrasi disana ya kematangan politiknya sudah bagus. “Kalau kita di Indonesia baru sepuluh tahun reformasi belum bisa demokrasi sungguh sungguh kita laksanakan,” ucap dia.
Oleh karena itu, tambahnya, kalau Pemilukada Gubernur/Wagub dikembalikan ke DPRP maka hal ini adalah suatu langkah mundur dari proses demokrasi yang sudah ada sejak masa reformasi. “Ini suatu kemunduran bagi demokrasi Indonesia. Tapi dari satu segi Gubernur itu kan wakil pemerintah pusat di daerah. Dari sisi itu sebenarnya peran Gubernur tak terlalu signifikan karena dia tak mempunyai rakyat. Wilayah oke tapi rakyat itu punya Kabupaten/ Kota. Maka dari itu dari sisi itu juga dapat dibenarkan mengapa DPRP melakukan inisiatif Pemilukada Gubernur/Wagub dikembalikan ke DPRP.
Dikatakannya, ada regulasi yang memungkinkan kalau pemilihan lewat DPRP atau DPRD itu dimungkinkan karena Gubernur hanya wakil pemerintah pusat. Kemudian dari sisi pemilihan DPRP menghemat biaya khusus Papua. Papua dengan tingkat kesulitan yang luar biasa sekarang dilakukan pemilihan DPRP mungkin hanya urus 56 orang.
Ketika ditanya pemilihan Gubernur/Wagub melalui DPRP merupakan pintu masuk pelaksanaan Otsus jika sebelumnya mengacu kepada UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Jika UU No 21 tahun 2001 tentang Otsus Papua dilakukan maka peran DPRP lebih maksimal dalam mengontrol pemerintahan terutama dari segi pertanggungjawabannya mungkin melalui DPRP ini peran DPRP juga lebih maksimal dalam mengawasi pelaksanaan pemerintahan. Ini yang menyebabkan DPRP ngotot, menurutnya, sebenarnya pengelolahan negara terutama konsep Papua sejak penerapan Otsus ini dari awal sudah salah pada saat Pemilukada Papua yang lalu kenapa tak dipakai UU No 21 Tahun 2001 pasal 7 karena peluang itu ada.
Menurut dia, justru terjadi mekanisme pemilihan ada yang urus di KPU ada di DPRP ada di MRP itu yang terjadi. Artinya dengan ini pemerintah dan rakyat tak jelih melihat celah celah aturan yang pada saat itu memungkinkan. Kenapa tak dilaksanakan di DPRP malah terjadi pemilihan langsung seolah olah UU No 21 Tahun 201 ditabrakan dengan UU 32 Tahun 2004. Padahal disini sudah ada UU No 21 Tahun 2001.
Dia menjelaskan, pemerintah dan rakyat Papua tak mempunyai kemampuan bargaining dengan pemerintah pusat bahwa Papua mempunyai UU No 21 Tahun 2001 pasal 7 menyatakan bahwa pemilihan Gubernur/Wagub Provinsi Papua adalah tugas dan wewenang DPRP.
“Itu kita tak lakukan jadi sejak pelaksanaaan Otsus kita sudah salah. Ini memang sudah Sembilan tahun kita melakanakan Otsus banyak hal yang kita tak buat kita hanya terus menerus mempersoalkan gagal tidaknya Otsus,” katanya.
“Dana 2 % dari DAU nasional untuk Otsus sudah masuk atau tidak padahal pasal pasal lain memungkinkan untuk melaksanakan kewenangan lebih oleh pemerintah daerah provinsi Papua.”
Sampai hari ini pengurusan CPNS masih diurus di pusat. Hal ini sebenarnya tak perlu karena pemerintah daerah mengetahui kebutuhan. Alokasi kuota CPNS masih ditentukan pemerintah pusat. Pengelolahan Sumber Daya Alam (SDM) Papua yang katanya 70% daerah dan 30 % pusat sampai hari ini tak ada realisasinya. Padahal sudah sembilan tahun pelaksanaan Otsus.
Karena itu, tambahnya, dari awal kita sudah tak peka melihat bargaining Papua dengan pemerintah pusat bahwa Papua harus katakan aturanya seperti ini, apabila rakyat Papua hendak dibangun dengan sungguh sungguh. Tapi kalau setengah hati pasti ada orang yang tak puas serta ada yang merasa pemerintah pusat melihat Papua secara setengah hati sehingga muncul aspirasi penolakan Otsus dan lain lain. (mdc)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7063:enembe-direstui-sby-jadi-calon-gubernur&catid=25:headline&Itemid=96
Partai Demokrat Siap Pemilukada Papua Melalui DPRP Atau Rakyat
Karena itu, menurut Bupati Puncak Jaya ini, baik Pemilukada Gubernur/Wagub melalui rakyat maupun dikembalikan kepada DPRP ada kelebihan dan ada kekurangan. Bagi Partai Demokrat cara apapun mau dipakai, baik pemilihan di DPRP maupun pemilihan rakyat selalu siap mengikutinya. Partai Demokrat sudah kerja baik tingkat DPP, DPD maupun DPC. “Tapi kita dudukan persoalan ini secara baik apa yang terbaik Tanah Papua dan demokrasi Indonesia. Persoalan pemilihan langsung maupun DPR P harus didudukan dalam konteks Papua dan konteks kepentingan nasional.
Dia mengatakan, baik Pemilukada Gubernur/Wagub Provinsi Papua dipilihan langsung oleh rakyat ataupun pemilihannya dikembalikan ke DPRP keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Pasalnya, Pemilukada dipilih rakyat secara langsung khusus kondisi Papua. Pertama, Pemilukada langsung membutuhkan biaya yang besar, baik penyelenggara maupun petarung. Kedua, kondisi masyarakat Papua dimana sebagian kawasan selama ini secara riil dilapangan mereka sesungguhnya tak menyalurkan aspirasi secara baik. Hal ini terbukti dari berbagai Pemilukada maupun Pemilu Legislatif yang dilewati. Pemilukada maupun Pemilu Legislatif hanya mengatasnamakan rakyat dan mengatasnamakan demokrasi, tapi ada sekelompok orang saja yang melakukan itu.
“Itu yang sudah terjadi di Tanah Papua selama bertahun tahun,” tandasnya.
Menurut dia, itulah salah satu dari banyak kelemahan apabila Pemilukada dilaksanakan lewat rakyat. Tapi ada keunggulan keunggulan juga dengan memasuki reformasi ini rakyat mempunyai hak memilih pemimpinya.
“Demokrasi yang kita baru bangun ini kan tak bisa dimatikan di tengah jalan. Demokrasi itu harus dibangun melalui suatu proses panjang. Kita baru 10 tahun reformasi kita jalan ujian ini harus kita lewati,” tuturnya.
Ia mencontohkan, Amerika Serikat yang ratusan tahun sudah menjalankan demokrasi disana ya kematangan politiknya sudah bagus. “Kalau kita di Indonesia baru sepuluh tahun reformasi belum bisa demokrasi sungguh sungguh kita laksanakan,” ucap dia.
Oleh karena itu, tambahnya, kalau Pemilukada Gubernur/Wagub dikembalikan ke DPRP maka hal ini adalah suatu langkah mundur dari proses demokrasi yang sudah ada sejak masa reformasi. “Ini suatu kemunduran bagi demokrasi Indonesia. Tapi dari satu segi Gubernur itu kan wakil pemerintah pusat di daerah. Dari sisi itu sebenarnya peran Gubernur tak terlalu signifikan karena dia tak mempunyai rakyat. Wilayah oke tapi rakyat itu punya Kabupaten/ Kota. Maka dari itu dari sisi itu juga dapat dibenarkan mengapa DPRP melakukan inisiatif Pemilukada Gubernur/Wagub dikembalikan ke DPRP.
Dikatakannya, ada regulasi yang memungkinkan kalau pemilihan lewat DPRP atau DPRD itu dimungkinkan karena Gubernur hanya wakil pemerintah pusat. Kemudian dari sisi pemilihan DPRP menghemat biaya khusus Papua. Papua dengan tingkat kesulitan yang luar biasa sekarang dilakukan pemilihan DPRP mungkin hanya urus 56 orang.
Ketika ditanya pemilihan Gubernur/Wagub melalui DPRP merupakan pintu masuk pelaksanaan Otsus jika sebelumnya mengacu kepada UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Jika UU No 21 tahun 2001 tentang Otsus Papua dilakukan maka peran DPRP lebih maksimal dalam mengontrol pemerintahan terutama dari segi pertanggungjawabannya mungkin melalui DPRP ini peran DPRP juga lebih maksimal dalam mengawasi pelaksanaan pemerintahan. Ini yang menyebabkan DPRP ngotot, menurutnya, sebenarnya pengelolahan negara terutama konsep Papua sejak penerapan Otsus ini dari awal sudah salah pada saat Pemilukada Papua yang lalu kenapa tak dipakai UU No 21 Tahun 2001 pasal 7 karena peluang itu ada.
Menurut dia, justru terjadi mekanisme pemilihan ada yang urus di KPU ada di DPRP ada di MRP itu yang terjadi. Artinya dengan ini pemerintah dan rakyat tak jelih melihat celah celah aturan yang pada saat itu memungkinkan. Kenapa tak dilaksanakan di DPRP malah terjadi pemilihan langsung seolah olah UU No 21 Tahun 201 ditabrakan dengan UU 32 Tahun 2004. Padahal disini sudah ada UU No 21 Tahun 2001.
Dia menjelaskan, pemerintah dan rakyat Papua tak mempunyai kemampuan bargaining dengan pemerintah pusat bahwa Papua mempunyai UU No 21 Tahun 2001 pasal 7 menyatakan bahwa pemilihan Gubernur/Wagub Provinsi Papua adalah tugas dan wewenang DPRP.
“Itu kita tak lakukan jadi sejak pelaksanaaan Otsus kita sudah salah. Ini memang sudah Sembilan tahun kita melakanakan Otsus banyak hal yang kita tak buat kita hanya terus menerus mempersoalkan gagal tidaknya Otsus,” katanya.
“Dana 2 % dari DAU nasional untuk Otsus sudah masuk atau tidak padahal pasal pasal lain memungkinkan untuk melaksanakan kewenangan lebih oleh pemerintah daerah provinsi Papua.”
Sampai hari ini pengurusan CPNS masih diurus di pusat. Hal ini sebenarnya tak perlu karena pemerintah daerah mengetahui kebutuhan. Alokasi kuota CPNS masih ditentukan pemerintah pusat. Pengelolahan Sumber Daya Alam (SDM) Papua yang katanya 70% daerah dan 30 % pusat sampai hari ini tak ada realisasinya. Padahal sudah sembilan tahun pelaksanaan Otsus.
Karena itu, tambahnya, dari awal kita sudah tak peka melihat bargaining Papua dengan pemerintah pusat bahwa Papua harus katakan aturanya seperti ini, apabila rakyat Papua hendak dibangun dengan sungguh sungguh. Tapi kalau setengah hati pasti ada orang yang tak puas serta ada yang merasa pemerintah pusat melihat Papua secara setengah hati sehingga muncul aspirasi penolakan Otsus dan lain lain. (mdc)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7063:enembe-direstui-sby-jadi-calon-gubernur&catid=25:headline&Itemid=96
PMKRI DPC Jayapura Rencana Duduki Polda Papua
JUBI --- Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Santo Efraim Cabang Jayapura, dalam jumpa pers di sekertariat PMKRI Abepura Kota Jayapura, Jumat (20/8) berencana menggalang semua elemen masyarakat untuk melakukan demonstrasi ke Polda Papua, terkait rencana Polda melakukan pemanggilan paksa pada Pdt Duma Sokrates Sofyan Yoman.
Sekertaris Jenderal PMKRI Cabang Jayapura, Yosep Turot, didampingi Komisariat Cabang Pemuda Katolik Kota Jayapura, Sebastian Bame mengatakan, bila Polda Papua benar-benar melakukan pemanggilan secara paksa terhadap Pdt Duma Sokrates Sofyan Yoman, maka semua elemen mahasiswa, aktivis dan masyarakat peduli HAM di Papua akan dikerahkan.
“Sekarang kami masih menggalang massa, sambil menunggu reaksi dari pihak Polda Papua,” kata Yosep Turot di Jayapura.
Menurut Sebastian Bame tindakan ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas dalam memperjuangkan hak-hak dasar warga sipil di Puncak Jaya dan dukungan kepada pemerhati masalah HAM, khususnya Pdt Duma Sokrates Sofyan Yoman.
Dukungan terhadap Sokrates Sofyan Yoman juga dilakukan oleh tokoh-tokoh gereja di Papua dengan menggelar rapat terbuka Kamis kemarin di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua di Jayapura. Rapat tersebut dihadiri peting gi Gereja di Tanah Papua yakni Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Pdt Jemima J Mirino-Krey Sth, Ketua Sinode Gereja Injili di Indonesia Pdt Lipius Biniluk STh, Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua Pdt DR Benny Giay, Persekutuan Gereja-Gejera Baptis di Tanah Papua Pdt Andreas Kogoya SMth, dan Keuskupan Jayapura Leo Laba Lajar OFM.
Rapat tersebut merumuskan pernyataan-pernyataan moral serta keprihatinan gereja-gereja di Tanah Papua terha dap kasus di Kabupaten Puncak Jaya secara khusus. Petinggi gereja di Tanah Papua menyerukan untuk segera dilakukan dialog nasional dalam rangka mencari solusi penyelesaian masalah-masalah di Tanah Papua secara adil, bermartabat dan manusiawi yang dimediasi pihak ketiga yang lebih netral. (Marten Ruma)
3 Penghargaan MURI, Persembahan Terakhir Fonataba Untuk Kebanggaan Sarmi
Minggu, 29 Agustus 2010 17:40
SARMI—Siapa yang menanam pasti akan menuai, demikian yang terjadi pada sosok fenomenal Drs. E. Fonataba, MM Bupati Kabupaten Sarmi yang karena cinta dan ketulusannya membangun dan mengangkat derajat masyarakat Sarmi menarik perhatian Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebuah lembaga independent yang mendorong anak bangsa untuk mengukir prestasi luar biasa.
Tidak tanggung – tanggung, 3 penghargaan dari MURI dengan nomor registrasi 4468, 4469, dan 4470 diterima sekaligus oleh Drs. E. Fonataba, MM yang diserahkan langsung oleh Senior Manager MURI Paulus Pangka, SH di Aula Kantor Bupati Sarmi di Kota Baru Petam Kamis (26/8) malam.
“keistimewaan prestasi yang diukir oleh Drs. E. Fonataba, adalah biasanya orang membuat rekor karena memang ingin dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia dan mengusulkan diri, tapi Bupati mengukir prestasi ini tidak ada motivasi untuk dicatatkan dalam MURI, namun karena kejelian staff kami melakukan survey media lokal maupun nasional sehingga kami bisa menemukan prestasi luar biasa ini, dan di Papua baru Bapak Fonataba yang mencatatkan Rekor fenomenal ini”, kata Paulus Pangka, SH kepada wartawan menjelaskan bahwasanya penghargaan dari MURI sempat ditolak oleh Fonataba, namun setelah dijelaskan maksud dan tujuannya barulah ia bersedia.
Menurutnya, apa yang dicatatkan oleh Drs. E. Fonataba, MM adalah rekor baru, dan diharapkan rekor ini akan memotivasi dan mendorong pejabat lainnya di seluruh Indonesia untuk lebih berprestasi lagi dan melewati rekor yang sudah dicatatkan oleh Bupati Sarmi yang sejak 26 Agustus kemarin telah menyelesaikan masa tugasnya dan telah dilepas melalui Sidang Paripurna Istimewa DPRD Sarmi.
“kalau semua pejabat di Indonesia berlomba – lomba menorehkan prestasi dan rekor seperti yang dicatatkan oleh Bupati Sarmi ini, yakin deh !, pasti rakyat Papua akan sejahtera semua, jadi tujuan MURI adalah dengan adanya penghargaan ini bisa memotivasi para pemimpin lainnya untuk berprestasi melebihi apa yang sudah dicatatkan oleh Fonataba, dan nanti bila ada yang melewati prestasi tersebut, dengan sendirinya rekor yang dicatatkan atas nama Fonataba gugur”, jelas Paulus Pangka lagi.
Bupati Sarmi dan istrinya Ny. Amelia Fonataba dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepadanya, namun menurutnya apa yang ia kerjakan semata – mata bentuk pengabdiannya kepada negara dan menjalankan amanah rakyat serta kepercayaan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk memimpin daerah ini.
“terima kasih kepada 5 suku besar di Sarmi yang telah memberikan hak kesulungannya kepada saya sehingga saya bisa memimpin daerah ini dan mempersembahkan apa yang terbaik dari saya untuk Tuhan dan untuk masyarakat Sarmi, kalau bukan karena Sarmi, saya bukanlah apa – apa dan tidak bisa berbuat apa – apa, jadi semua ini kami persembahkan untuk masyarakat Sarmi”, tandas Drs. E. Fonataba, MM didampingi istrinya Ny. Amelia Fonataba.
Penghargaan MURI tersebut diberikan kepada Drs. E. Fonataba, MM atas inisiatifnya dalam membangun perumahan rakyat type 36 sebanyak 2.499 unit dalam satu masa kepemimpinan, Bupati yang paling banyak memberikan bantuan truk kepada kampung yakni sebanyak 48 truk, dan sebagai Bupati yang paling sedikit pergi keluar daerah pengampunya (wilayah kekuasaannya).
Bupati sendiri berharap rekor tersebut hendaknya akan memotivasi para pemimpin Sarmi berikutnya untuk juga mencatatkan dan membuat prestasi demi kesejahteraan masyarakat, dan bukan semata – mata hanya karena ingin dihargai atau dapat penghargaan.
“saya yakin pemimpin Sarmi mendatang bisa mencatatkan rekor yang lebih baik dari apa yang sudah kami buat, kuncinya pemimpin harus betah di tempat tugas”, katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa hanya seorang pemimpin yang betah berada di tempat tugas sajalah yang bisa menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya, karena ia akan mengetahui setiap hal yang terjadi di daerahnya, apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan bisa secepatnya mengambil langkah – langkah penanganan.
“masa tugas kita sangat singkat, apalah artinya bila kita tidak bisa berbuat sesuatu dalam periode yang singkat itu, jadi betah di tempat tugas itu adalah salah satu alatnya untuk bisa berbuat banyak bagi rakyat”, kata Fonataba menjawab pertanyaan apa motivasinya sehingga bisa betah berlama – lama di tempat tugas, sesuatu yang tidak lazim dan rasanya sangat sulit dilakukan oleh seorang pemimpin kecuali yang sungguh – sungguh mencintai rakyatnya. (amr)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6967:otsus-sudah-tak-up-to-date-dengan-kondisi-faktual-papua&catid=25:headline&Itemid=96
3 Penghargaan MURI, Persembahan Terakhir Fonataba Untuk Kebanggaan Sarmi
Tidak tanggung – tanggung, 3 penghargaan dari MURI dengan nomor registrasi 4468, 4469, dan 4470 diterima sekaligus oleh Drs. E. Fonataba, MM yang diserahkan langsung oleh Senior Manager MURI Paulus Pangka, SH di Aula Kantor Bupati Sarmi di Kota Baru Petam Kamis (26/8) malam.
“keistimewaan prestasi yang diukir oleh Drs. E. Fonataba, adalah biasanya orang membuat rekor karena memang ingin dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia dan mengusulkan diri, tapi Bupati mengukir prestasi ini tidak ada motivasi untuk dicatatkan dalam MURI, namun karena kejelian staff kami melakukan survey media lokal maupun nasional sehingga kami bisa menemukan prestasi luar biasa ini, dan di Papua baru Bapak Fonataba yang mencatatkan Rekor fenomenal ini”, kata Paulus Pangka, SH kepada wartawan menjelaskan bahwasanya penghargaan dari MURI sempat ditolak oleh Fonataba, namun setelah dijelaskan maksud dan tujuannya barulah ia bersedia.
Menurutnya, apa yang dicatatkan oleh Drs. E. Fonataba, MM adalah rekor baru, dan diharapkan rekor ini akan memotivasi dan mendorong pejabat lainnya di seluruh Indonesia untuk lebih berprestasi lagi dan melewati rekor yang sudah dicatatkan oleh Bupati Sarmi yang sejak 26 Agustus kemarin telah menyelesaikan masa tugasnya dan telah dilepas melalui Sidang Paripurna Istimewa DPRD Sarmi.
“kalau semua pejabat di Indonesia berlomba – lomba menorehkan prestasi dan rekor seperti yang dicatatkan oleh Bupati Sarmi ini, yakin deh !, pasti rakyat Papua akan sejahtera semua, jadi tujuan MURI adalah dengan adanya penghargaan ini bisa memotivasi para pemimpin lainnya untuk berprestasi melebihi apa yang sudah dicatatkan oleh Fonataba, dan nanti bila ada yang melewati prestasi tersebut, dengan sendirinya rekor yang dicatatkan atas nama Fonataba gugur”, jelas Paulus Pangka lagi.
Bupati Sarmi dan istrinya Ny. Amelia Fonataba dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepadanya, namun menurutnya apa yang ia kerjakan semata – mata bentuk pengabdiannya kepada negara dan menjalankan amanah rakyat serta kepercayaan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk memimpin daerah ini.
“terima kasih kepada 5 suku besar di Sarmi yang telah memberikan hak kesulungannya kepada saya sehingga saya bisa memimpin daerah ini dan mempersembahkan apa yang terbaik dari saya untuk Tuhan dan untuk masyarakat Sarmi, kalau bukan karena Sarmi, saya bukanlah apa – apa dan tidak bisa berbuat apa – apa, jadi semua ini kami persembahkan untuk masyarakat Sarmi”, tandas Drs. E. Fonataba, MM didampingi istrinya Ny. Amelia Fonataba.
Penghargaan MURI tersebut diberikan kepada Drs. E. Fonataba, MM atas inisiatifnya dalam membangun perumahan rakyat type 36 sebanyak 2.499 unit dalam satu masa kepemimpinan, Bupati yang paling banyak memberikan bantuan truk kepada kampung yakni sebanyak 48 truk, dan sebagai Bupati yang paling sedikit pergi keluar daerah pengampunya (wilayah kekuasaannya).
Bupati sendiri berharap rekor tersebut hendaknya akan memotivasi para pemimpin Sarmi berikutnya untuk juga mencatatkan dan membuat prestasi demi kesejahteraan masyarakat, dan bukan semata – mata hanya karena ingin dihargai atau dapat penghargaan.
“saya yakin pemimpin Sarmi mendatang bisa mencatatkan rekor yang lebih baik dari apa yang sudah kami buat, kuncinya pemimpin harus betah di tempat tugas”, katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa hanya seorang pemimpin yang betah berada di tempat tugas sajalah yang bisa menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya, karena ia akan mengetahui setiap hal yang terjadi di daerahnya, apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan bisa secepatnya mengambil langkah – langkah penanganan.
“masa tugas kita sangat singkat, apalah artinya bila kita tidak bisa berbuat sesuatu dalam periode yang singkat itu, jadi betah di tempat tugas itu adalah salah satu alatnya untuk bisa berbuat banyak bagi rakyat”, kata Fonataba menjawab pertanyaan apa motivasinya sehingga bisa betah berlama – lama di tempat tugas, sesuatu yang tidak lazim dan rasanya sangat sulit dilakukan oleh seorang pemimpin kecuali yang sungguh – sungguh mencintai rakyatnya. (amr)
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6967:otsus-sudah-tak-up-to-date-dengan-kondisi-faktual-papua&catid=25:headline&Itemid=96
Pdt. Matruty : Tuhan Sudah Pake Dia Untuk Angkat Derajat Orang Sarmi
abu, 25 Agustus 2010 16:51
Oleh : Walhamri Wahid
Semua tertunduk, mata berkaca – kaca, di depan altar di bawah gambar perjamuan Tuhan Yesus Kristus yang terpampang di dinding gereja, sepasang suami istri itu berdiri dalam balutan kesederhanaan mereka sembari memberikan kekuatan dan menebar harapan kepada semua jemaat yang baru saja mengikuti ibadah pentahbisan Gereja Thalitakum Wari.
Dengan terpatah – patah dan air muka yang sedih bercampur rasa syukur Ny. Amelia Fonataba berkisah tentang bagaimana perjuangannya mendampingi sang suami Drs. E. Fonataba, MM ketika masih menjabat sebagai Pembantu Bupati Sarmi beberapa tahun lampau.
“kami pernah susah, bahkan lebih susah dari yang Bapak / Ibu bayangkan hari ini, kami pernah mengalami saat anak – anak mau melanjutkan sekolah, dan uang tidak ada sama sekali, tunggu gaji sebagai Pembantu Bupati baru bisa kami terima tiga bulan sekali, tapi hanya Tuhan saja yang memberi kekuatan kepada kami, tempat kami mengadu, dan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita bila kita selalu setia dan percaya hanya kepada Dia”, kata Ny. Amelia memberi kekuatan kepada masyarakat Kampung Wari Distrik Pantai Barat.
Lewat kisah perjuangan mereka ia mencoba memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa hanya dengan takut akan Tuhan sajalah mereka bisa keluar dari segala kemiskinan dan kesusahan hidup, kepada masyarakat ia minta tidak berkecil hati, dan tetap setia buat Tuhan maka Tuhan akan menjawab semua apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Ia menuturkan berawal dari kesusahan hari itu, ia bersama suaminya dan anak ketiganya masuk ke dalam rumah mereka lalu duduk berdoa kepada Tuhan sampai menitikkan air mata, karena mereka merasa selama ini sudah selalu setia buat Tuhan, menjalankan tugas dengan sebaik – baiknya, namun Tuhan belum memberikan kelonggaran dalam hidup mereka.
“kesehatan, kedamaian, ketenangan sudah Tuhan kasih, tapi masa depan akan anak – anak yang lebih baik, membuat kami risau, sehingga hari itu kami minta dengan sungguh – sungguh kepada Tuhan, sekiranya Tuhan berkenan memberikan kami kelonggaran dalam urusan dunia (uang dan harta) kami berjanji akan membantu dan menggunakannya untuk orang banyak”, tutur Ny. Amelia dengan suara yang tercekat dan mata berkaca – kaca menerawang jauh ke masa lampau, saat kehidupan itu terasa sangat berat dan susah bagi keluarga mereka.
Setelah berdoa, keesokan harinya dengan modal yakin akan pertolongan Tuhan keluarga itu menuju ke Jayapura meski harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dan naik speedboad turun di Depapre.
“Ajaib, sejak doa kami itu, beberapa hari kemudian Bapak di suruh siap akan dilantik sebagai Kepala Biro Pemerintahan di Provinsi, besoknya disaat Mama ada bingung biaya anak – anak yang mau lanjut sekolah tiba – tiba ada staff dari Provinsi datang ke rumah kasih Mama uang Rp 6 juta, itu adalah uang terbesar yang pernah kami terima ketika itu, Mama panggil Bapak dan anak – anak pulang lalu kami berdoa ucapkan syukur, dan sejak itu perlahan ekonomi keluarga mulai membaik, dan kami tidak lupa janji dengan kami untuk menjadikan berkat itu alat berbuat untuk sesama”, katanya lagi.
Siapa menyangka bahwa acara peresmian dan pentahbisan Gereja GKI Thalitakum Wari kemarin adalah yang terakhir dilakukan oleh Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM, bahkan dari sekitar kurang lebih 30-an rumah ibadah yang dibangun atas inisiatifnya tanpa menggerogoti APBD setiap tahunnya, bahkan gereja tersebut adalah gereja terakhir yang telah dibangun olehnya dalam masa kepemimpinannya sebagai Bupati yang segera berakhir hari ini Kamis (26/8).
Padahal seperti disampaikan oleh Ketua Klasis Sarmi Barat Pdt. N. Matruty, S.Th dalam sambutannya usai ibadah pentahbisan Gereja Thalitakum Wari, masih ada pergumulan masyarakat Kampung Waim Distrik Pantai Barat yang juga merindukan adanya rumah Tuhan di tengah kampung mereka.
“ kalau Tuhan masih berkehendak dan Gubernur mempercayakan saya untuk menjabat sebagai Penjabat Bupati sampai dengan terpilihnya kepala daerah baru, maka kita akan coba jawab kerinduan itu, karena sesuai ketentuan masa jabatan kami berakhir 26 Agustus besok, tapi bukan berarti selesapas ini hubungan diantara kita terputus”, kata Bupati Sarmi dengan mata berkaca - kaca
Menyadari semua adalah titipan Tuhan, jabatan, harta hanyalah alat, sedangkan penolong dan kekuatan yang sesungguhnya adalah Tuhan maka figur yang satu ini dalam keseharian maupun menjalankan roda pemerintahannya bersama dengan Berthus Kyeu Kyeu, BA, MPA selalu menjadikan Tuhan yang utama.
Ketua Klasis Sarmi Barat Pdt. N. Matruty, S.Th kepada Bintang Papua menjelaskan bahwa pola yang dikembangkan oleh Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM bukan hanya menjawab kebutuhan masyarakat akan sarana beribadah yang layak, namun juga telah menjembatani jurang yang dalam antara pengusaha dengan masyarakat sehingga semua sama dan tidak ada kecemburuan sosial.
“di wilayah Klasis Sarmi Barat telah berhasil dibangun 4 gereja, kalau total semuanya di Sarmi setahu saya sudah ada 25-an lebih gereja yang dibangun oleh pengusaha atas instruksi dan inisiatif dari Bupati, susah mencari figur yang mau mengorbankan keuntungan pribadi dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan”, ujar Matruty menjelaskan bahwa pembangunan gereja tersebut dibangun oleh pengusaha yang diberikan proyek perumahan di Kampung Wari, jadi fee yang biasa dinikmati pejabat dari pengusaha atas instruksi Bupati disumbangkan sepenuhnya untuk membangun rumah ibadah kristen dan muslim.
Menurutnya lagi Tuhan Yesus sudah pakai Drs. E. Fonataba dan keluarganya untuk membawa terang dan perubahan serta mengangkat derajat masyarakat Sarmi, untuk itu ia mewakili masyarakat Distrik Pantai Barat tetap mengharapkan kiranya selesai masa jabatannya E. Fonataba tetap melihat dan memberikan perhatian terhadap jemaat dan masyarakat di Pantai Barat.
Karena menurutnya banyak terobosan dan kebijakan Drs. E. Fonataba, MM yang benar – benar pro kepada orang Sarmi sehingga bukan hanya masyarakat saja yang merasakan, namun SDM Sarmi juga banyak diberdayakan dan dipersiapkan sejak awal kepemimpinannya. ***
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6894:pdt-matruty--tuhan-sudah-pake-dia-untuk-angkat-derajat-orang-sarmi&catid=25:headline&Itemid=96
Thalitakum Wari, Gereja Terakhir yang Diresmikan Fonataba
Pdt. Matruty : Tuhan Sudah Pake Dia Untuk Angkat Derajat Orang Sarmi
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)Oleh : Walhamri Wahid
Dengan terpatah – patah dan air muka yang sedih bercampur rasa syukur Ny. Amelia Fonataba berkisah tentang bagaimana perjuangannya mendampingi sang suami Drs. E. Fonataba, MM ketika masih menjabat sebagai Pembantu Bupati Sarmi beberapa tahun lampau.
“kami pernah susah, bahkan lebih susah dari yang Bapak / Ibu bayangkan hari ini, kami pernah mengalami saat anak – anak mau melanjutkan sekolah, dan uang tidak ada sama sekali, tunggu gaji sebagai Pembantu Bupati baru bisa kami terima tiga bulan sekali, tapi hanya Tuhan saja yang memberi kekuatan kepada kami, tempat kami mengadu, dan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita bila kita selalu setia dan percaya hanya kepada Dia”, kata Ny. Amelia memberi kekuatan kepada masyarakat Kampung Wari Distrik Pantai Barat.
Lewat kisah perjuangan mereka ia mencoba memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa hanya dengan takut akan Tuhan sajalah mereka bisa keluar dari segala kemiskinan dan kesusahan hidup, kepada masyarakat ia minta tidak berkecil hati, dan tetap setia buat Tuhan maka Tuhan akan menjawab semua apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Ia menuturkan berawal dari kesusahan hari itu, ia bersama suaminya dan anak ketiganya masuk ke dalam rumah mereka lalu duduk berdoa kepada Tuhan sampai menitikkan air mata, karena mereka merasa selama ini sudah selalu setia buat Tuhan, menjalankan tugas dengan sebaik – baiknya, namun Tuhan belum memberikan kelonggaran dalam hidup mereka.
“kesehatan, kedamaian, ketenangan sudah Tuhan kasih, tapi masa depan akan anak – anak yang lebih baik, membuat kami risau, sehingga hari itu kami minta dengan sungguh – sungguh kepada Tuhan, sekiranya Tuhan berkenan memberikan kami kelonggaran dalam urusan dunia (uang dan harta) kami berjanji akan membantu dan menggunakannya untuk orang banyak”, tutur Ny. Amelia dengan suara yang tercekat dan mata berkaca – kaca menerawang jauh ke masa lampau, saat kehidupan itu terasa sangat berat dan susah bagi keluarga mereka.
Setelah berdoa, keesokan harinya dengan modal yakin akan pertolongan Tuhan keluarga itu menuju ke Jayapura meski harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dan naik speedboad turun di Depapre.
“Ajaib, sejak doa kami itu, beberapa hari kemudian Bapak di suruh siap akan dilantik sebagai Kepala Biro Pemerintahan di Provinsi, besoknya disaat Mama ada bingung biaya anak – anak yang mau lanjut sekolah tiba – tiba ada staff dari Provinsi datang ke rumah kasih Mama uang Rp 6 juta, itu adalah uang terbesar yang pernah kami terima ketika itu, Mama panggil Bapak dan anak – anak pulang lalu kami berdoa ucapkan syukur, dan sejak itu perlahan ekonomi keluarga mulai membaik, dan kami tidak lupa janji dengan kami untuk menjadikan berkat itu alat berbuat untuk sesama”, katanya lagi.
Siapa menyangka bahwa acara peresmian dan pentahbisan Gereja GKI Thalitakum Wari kemarin adalah yang terakhir dilakukan oleh Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM, bahkan dari sekitar kurang lebih 30-an rumah ibadah yang dibangun atas inisiatifnya tanpa menggerogoti APBD setiap tahunnya, bahkan gereja tersebut adalah gereja terakhir yang telah dibangun olehnya dalam masa kepemimpinannya sebagai Bupati yang segera berakhir hari ini Kamis (26/8).
Padahal seperti disampaikan oleh Ketua Klasis Sarmi Barat Pdt. N. Matruty, S.Th dalam sambutannya usai ibadah pentahbisan Gereja Thalitakum Wari, masih ada pergumulan masyarakat Kampung Waim Distrik Pantai Barat yang juga merindukan adanya rumah Tuhan di tengah kampung mereka.
“ kalau Tuhan masih berkehendak dan Gubernur mempercayakan saya untuk menjabat sebagai Penjabat Bupati sampai dengan terpilihnya kepala daerah baru, maka kita akan coba jawab kerinduan itu, karena sesuai ketentuan masa jabatan kami berakhir 26 Agustus besok, tapi bukan berarti selesapas ini hubungan diantara kita terputus”, kata Bupati Sarmi dengan mata berkaca - kaca
Menyadari semua adalah titipan Tuhan, jabatan, harta hanyalah alat, sedangkan penolong dan kekuatan yang sesungguhnya adalah Tuhan maka figur yang satu ini dalam keseharian maupun menjalankan roda pemerintahannya bersama dengan Berthus Kyeu Kyeu, BA, MPA selalu menjadikan Tuhan yang utama.
Ketua Klasis Sarmi Barat Pdt. N. Matruty, S.Th kepada Bintang Papua menjelaskan bahwa pola yang dikembangkan oleh Bupati Sarmi Drs. E. Fonataba, MM bukan hanya menjawab kebutuhan masyarakat akan sarana beribadah yang layak, namun juga telah menjembatani jurang yang dalam antara pengusaha dengan masyarakat sehingga semua sama dan tidak ada kecemburuan sosial.
“di wilayah Klasis Sarmi Barat telah berhasil dibangun 4 gereja, kalau total semuanya di Sarmi setahu saya sudah ada 25-an lebih gereja yang dibangun oleh pengusaha atas instruksi dan inisiatif dari Bupati, susah mencari figur yang mau mengorbankan keuntungan pribadi dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan”, ujar Matruty menjelaskan bahwa pembangunan gereja tersebut dibangun oleh pengusaha yang diberikan proyek perumahan di Kampung Wari, jadi fee yang biasa dinikmati pejabat dari pengusaha atas instruksi Bupati disumbangkan sepenuhnya untuk membangun rumah ibadah kristen dan muslim.
Menurutnya lagi Tuhan Yesus sudah pakai Drs. E. Fonataba dan keluarganya untuk membawa terang dan perubahan serta mengangkat derajat masyarakat Sarmi, untuk itu ia mewakili masyarakat Distrik Pantai Barat tetap mengharapkan kiranya selesai masa jabatannya E. Fonataba tetap melihat dan memberikan perhatian terhadap jemaat dan masyarakat di Pantai Barat.
Karena menurutnya banyak terobosan dan kebijakan Drs. E. Fonataba, MM yang benar – benar pro kepada orang Sarmi sehingga bukan hanya masyarakat saja yang merasakan, namun SDM Sarmi juga banyak diberdayakan dan dipersiapkan sejak awal kepemimpinannya. ***
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6894:pdt-matruty--tuhan-sudah-pake-dia-untuk-angkat-derajat-orang-sarmi&catid=25:headline&Itemid=96
